CORETAN
Kamis, 08 November 2012
APA ITU STIFIN
Test Finger Print STIFIn
Tes STIFIn dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari Anda, mengambil waktu tidak lebih dari 1 menit.
Sidik jari yang membawa informasi tentang komposisi susunan syaraf tersebut kemudian dianalisa dan dihubungkan dengan belahan otak tertentu yang dominan berperan sebagai sistem-operasi dan sekaligus menjadi mesin kecerdasan anda.
Lebih jauh lagi dari susunan syaraf tersebut masih dapat diprediksi letak dominasi mesin kecerdasan Anda ada di irisan otak berwarna putih atau di irisan otak berwarna abu-abu, sehingga mesin kecerdasan anda memiliki kemudi introvert (i) atau ekstrovert (e).
Mesin kecerdasan dengan kemudi i atau e inilah yang kemudian disebut sebagai personaliti. Mesin kecerdasan dan personaliti ini keduanya genetik tidak pernah berubah sepanjang hidup anda. Namun demikian terdapat banyak lagi personaliti-personaliti lain yang tidak genetik dan dapat berubah.
Salah satu contohnya seperti sifat (traits) Introvert (disingkat I besar) dan Ekstrovert (disingkat E besar). I dan E sebagai sifat (traits) memang dapat berubah, sedangkan i dan e sebagai kemudi mesin kecerdasan adalah genetik dan tidak dapat berubah. Tes STIFIn mampu menyimpulkan mana yang genetik dengan terlebih dahulu menyingkirkan semua variabel yang bisa berubah (karena tidak genetik).
Konsep STIFIn diperkenalkan oleh Farid Poniman dengan mengkompilasi dari teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu SDM. Prinsip besarnya mengacu kepada konsep kecerdasan tunggal dari Carl Gustaav Jung.
Tes ini memiliki reliabilitas yang tinggi. Tes yang dilakukan mulai dari usia anak tiga tahun hasilnya akan sama jika diulang kembali pada usia berapapun.
Jumat, 13 Juli 2012
Bekerja Merupakan Sebuah Kehormatan dan Nilai dari Sebuah Ibadah
Seorang lelaki sedang dilanda lapar. Lantas ia pergi ke sebuah rumah makan di pinggir jalan. Tidak menyantap waktu terlampau lama, pesanan makanan lelaki itu sudah terhidang di atas meja. Saat lelaki itu mulai memakan makanannya, seorang anak laki-laki kecil datang menghampiri sambil membawa kue-kue.
“Pak, mau beli kue saya?”
“Tidak. Saya sedang makan,” si lelaki menjawab dengan cuek.
Rupanya, anak kecil itu tidak lantas pergi. Ia kembali menawarkan kuenya begitu si lelaki menghabiskan makanannya. Namun, tawaran kedua membuahkan hasil yang sama dengan tawaran pertama.
“Tidak. Saya sudah kenyang.”
Setelah lelaki itu membayar makanan di kasir dan beranjak pergi, anak kecil itu rupanya belum menyerah juga. Sudah seharian ini dia menjajakan kue buatan ibunya. Maka kata “menyerah” sudah lama dia hapus dari kamus hidupnya.
“Pak, mau beli kue saya?”
Merasa risih dengan tawaran si anak untuk ke sekian kali, lelaki itu akhirnya merogoh sakunya. Kemudian ia mengeluarkan uang sebesar dua ribu rupiah.
“Ini uang saya berikan. Kuenya tidak akan saya ambil. Anggap saja ini sedekah dari saya.”
Anak kecil itu lantas mengambil uang. Namun tanpa diduga si lelaki, uang tersebut malah diberikan kepada pengemis yang sedang ada di situ.
“Kenapa uang itu kamu berikan kepada pengemis? Kenapa tidak kamu ambil?”
Lugu anak kecil itu tersenyum. Lalu menjawab, “Saya sudah berjanji kepada ibu di rumah, bahwa saya akan menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis. Dan saya akan bangga pulang ke rumah dan bertemu ibu dengan kue yang sudah terjual habis. Saya akan merekahkan senyum manakala menyerahkan uang hasil saya berjualan. Sungguh, ibu saya tidak suka kalau saya menjadi pengemis.”
Lelaki itu tertegun. Tidak ada keraguan yang tersisa, yang ia jumpai di bola mata anak kecil itu. Dia tidak menyangka, anak sekecil itu punya etos kerja yang tinggi. Dia tidak menduga, bahwa keberhasilan menjajakan kue di hadapan ibunya merupakan satu kehormatan.
Setelah agak lama memerhatikan anak kecil itu, si lelaki lalu memutuskan untuk memborong habis kue. Bukan karena kasihan, tetapi karena ia telah ditegur sebuah pendirian, bahwa sesungguhnya bekerja adalah sebuah kehormatan.
Dikisahkan, bahwa suatu hari Nabi Isa a.s berpapasan dengan seseorang. Lalu ia bertanya, "Apa kesibukanmu sehari-hari?" Orang itu menjawab, "Aku senantiasa sibuk beribadah." Mendengar demikian, Nabi Isa lekas melanjutkan pertanyaannya, "Lalu siapa yang menanggung kehidupanmu?" Ia berkata, "Saudaraku." Nabi Isa spontan menjawab, "Kalau demikian, saudaramu itu lebih tinggi nilai ibadahnya daripada kamu." (Al Ghazali)
“Pak, mau beli kue saya?”
“Tidak. Saya sedang makan,” si lelaki menjawab dengan cuek.
Rupanya, anak kecil itu tidak lantas pergi. Ia kembali menawarkan kuenya begitu si lelaki menghabiskan makanannya. Namun, tawaran kedua membuahkan hasil yang sama dengan tawaran pertama.
“Tidak. Saya sudah kenyang.”
Setelah lelaki itu membayar makanan di kasir dan beranjak pergi, anak kecil itu rupanya belum menyerah juga. Sudah seharian ini dia menjajakan kue buatan ibunya. Maka kata “menyerah” sudah lama dia hapus dari kamus hidupnya.
“Pak, mau beli kue saya?”
Merasa risih dengan tawaran si anak untuk ke sekian kali, lelaki itu akhirnya merogoh sakunya. Kemudian ia mengeluarkan uang sebesar dua ribu rupiah.
“Ini uang saya berikan. Kuenya tidak akan saya ambil. Anggap saja ini sedekah dari saya.”
Anak kecil itu lantas mengambil uang. Namun tanpa diduga si lelaki, uang tersebut malah diberikan kepada pengemis yang sedang ada di situ.
“Kenapa uang itu kamu berikan kepada pengemis? Kenapa tidak kamu ambil?”
Lugu anak kecil itu tersenyum. Lalu menjawab, “Saya sudah berjanji kepada ibu di rumah, bahwa saya akan menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis. Dan saya akan bangga pulang ke rumah dan bertemu ibu dengan kue yang sudah terjual habis. Saya akan merekahkan senyum manakala menyerahkan uang hasil saya berjualan. Sungguh, ibu saya tidak suka kalau saya menjadi pengemis.”
Lelaki itu tertegun. Tidak ada keraguan yang tersisa, yang ia jumpai di bola mata anak kecil itu. Dia tidak menyangka, anak sekecil itu punya etos kerja yang tinggi. Dia tidak menduga, bahwa keberhasilan menjajakan kue di hadapan ibunya merupakan satu kehormatan.
Setelah agak lama memerhatikan anak kecil itu, si lelaki lalu memutuskan untuk memborong habis kue. Bukan karena kasihan, tetapi karena ia telah ditegur sebuah pendirian, bahwa sesungguhnya bekerja adalah sebuah kehormatan.
Dikisahkan, bahwa suatu hari Nabi Isa a.s berpapasan dengan seseorang. Lalu ia bertanya, "Apa kesibukanmu sehari-hari?" Orang itu menjawab, "Aku senantiasa sibuk beribadah." Mendengar demikian, Nabi Isa lekas melanjutkan pertanyaannya, "Lalu siapa yang menanggung kehidupanmu?" Ia berkata, "Saudaraku." Nabi Isa spontan menjawab, "Kalau demikian, saudaramu itu lebih tinggi nilai ibadahnya daripada kamu." (Al Ghazali)
Sabtu, 30 Juni 2012
Pekerjaan Sosial
INTERVENSI PEKERJAAN SOSIAL
• Intervensi Pekerjaan Sosial adalah aktivitas profesional Pekerjaan Sosial yang dikenakan/ditujukan kepada orang, baik secara individu, kelompok, maupun masyarakat, baik yang bersifat residual ataupun institusional, baik langsung maupun tidak langsung, baik preventif, kuratif-rehabilitatif, developmental-edukatif, maupun preventif, yang dilandasi oleh seperangkat ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dan kode etik profesi.
• Dalam intervensi ini terkandung berbagai aspek atau dimensi, seperti : bidang garapan, proses, prinsip, strategi, fungsi, metode, dll.
1. Pendekatan Pekerjaan Sosial
• Dualistic Approach
Pendekatan ini didasari asumsi bahwa “Masalah yang dihadapi manusia adalah hasil interaksi sosial manusia (penyandang masalah) dengan lingkungannya”, oleh karena itu pemecahan masalah harus diawali dengan memandang manusia dan lingkungannya sekaligus, dan pemecahan masalah harus dilakukan terhadap penyandang masalah dan lingkungannya sekaligus.
• Holistic Approach/Comprehensive Approach
Pendekatan ini didasari asumsi bahwa “Setiap masalah yang dihadapi manusia tidak pernah berdiri sendiri atau tunggal”, artinya satu masalah selalu terkait dengan masalah lain atau mencakup beberapa aspek/dimensi manusia. Oleh karena itu pemecahan satu masalah harus dikuti dengan pemecahan masalah lain yang terkait atau menyeluruh atau secara luas.
2. Sistem-Sistem Dasar Pekerjaan Sosial
Sistem-sistem dasar pekerjaan sosial atau 4 sistem dasar pekerjaan sosial dapat dikatakan sebagai penjabaran dari pendekatan dualistik dan sekaligus pendekatan wholistik/komprehensif.
Jika dianalogikan dengan bidang kedokteran, Pekerja Sosial yang sedang membantu orang memecahkan masalahnya, ibarat dokter yang sedang menangani/menyembuhkan penyakit pasiennya. Pasien dari Pekerja Sosial disebut Klien, sedangkan Pekerja Sosial disebut Pelaksana Perubahan.
Untuk menyembuhkan penyakit pasiennya, dokter cukup memberikan perlakuan kepada pasiennya saja (pendekatan monolistik), tetapi Pekerja Sosial tidak dapat/boleh menggunakan pendekatan monolistik. Sesuai dengan asumsi yang mendasari, satu masalah yang dihadapi orang pasti melibatkan atau terkait dengan interaksinya dengan lingkungannya. Artinya masalah itu hasil interaksi keduanya. Oleh karena itu keduanya harus diberi perlakuan.
Masalah manusia selalu multidimensional atau kompleks, artinya mencakup/melibatkan aspek lain. Pekerjaan Sosial hanya kompeten di bidangnya. Kompetensi bidang lain harus diserahkan pada porfesi lain yang kompeten dengan bidang masalahnya.
• Sistem Pelaksana Perubahan (Change Agent System)
Sekelompok orang yang tugasnya memberikan bantuan atas dasar keahlian yang berbeda-beda dan bekerja dengan sistem yang berbeda ukurannya.
• Sistem Klien (The Client System)
Orang (perseorangan, keluarga, kelompok, masyarakat yang di samping menjadi penerima bantuan jga merupakan sistem yang meminta bantuan bantuan.
• Sistem Sasaran
Sistem sasaran adalah orang-orang yang dijadikan sasaran perubahan atau pengaruh , agar tujuan dapat dicapai.
• Sistem Kegiatan ( orang-orang yang bersama-sama dengan pekerja sosial berusaha untuk menyelesaikan tugas-2 dan mencapai tujuan dan mencapai tujuan usaha perubahan)
2. Bidang-Bidang Pelayanan Pekerjaan Sosial-2
• Public Assistence (Bantuan Masyarakat)
• Social Insurance (Jaminan Sosial)
• Family Services (Pelayanan Keluarga)
• Child Welfare Services (Pelayanan Kesejahteraan Anak)
• Health and Medical Services (Pelayanan Kesehatan dan Medik)
• Mental Hygiene Services (Pelayanan Kesehatan Mental)
• Correctional Services (Palayanan Koreksional)
• Youth Leisure-time Services (Pelayanan Bagi Remaja)
• Veeteran”s Services (Pelayanan Bagi Veteran)
• Employment Services (Pelayanan bagi Pekerja)
• Housing Services (Pelayanan Perumahan dan Pemukiman)
• International Social Services (Pelayanan Sosial Internasional)
• Community Welfare Services (Pelayanan Kesejahteraan Masyarakat)
3. Setting Pekerjaan Sosial
• Primary Setting
Aktivitas profesional yang menempatkan profesi Pekerjaan Sosial sebagai profesi utama, sedangkan profesi lain sebagai profesi pendukung.
• Secondary Setting
Aktivitas profesional yang menempatkan profesi Pekerjaan Sosial sebagai profesi pendukung dari profesi lain yang menjadi profesi utamanya.
4. Metode-Metode Pekerjaan Sosial
• Social Case Work
Metode yang digunakan untuk membantu memecahkan masalah klien secara perseorangan.
• Social Group Work
Metode yang digunakan untuk membantu memecahkan masalah klien dengan menggunakan kelompok sebagai alat/media.
• Commnuity Organizing/Community Development
Metode yang digunakan untuk membantu memecahkan masalah klien dengan basis kekuatan masyarakat.
• Social Work Administration
Penyelenggaraan administrasi yang optimal, guna membantu pemecahan masalah klien agar lebih efektif dan efisien.
• Social Work Research
Penelitian-penelitian yang dilakukan guna menggembangkan konsep, metode, teknik, dll agar praktek pekerjaan sosial semakin berkembang, efektif dan efisien.
5. Fungsi Dasar Pekerjaan Sosial (Rex A. Skidmore & Milton G. Thackeray)
• Restoration of impaired social functioning :
Curative aspects
Tindakan professional dilakukan untuk memecahkan masalah
Rehabilitative aspects
Tindakan dilakukan untuk memperbaiki kondisi klien yang rusak/ terganggu agar kembali seperti semula
• Provision of resources :
Developmental
Tindakan profesional diarahkan untuk mengembangkan potensi atau kemampuan yang dipunyai klien
Educational
Tindakan profesional dilakukan dalam bentuk pendidikan atau pelatihan kepada klien
• Prevention :
Prevention of problems
Tindakan profesional dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi masalah.
Prevention of social ills
Tindakan profesional dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penyakit-penyakit sosial
6. Prinsip-Prinsip Dasar Pekerjaan Sosial
• Acceptance (Penerimaan)
Social Worker harus menerima klien apa adanya, siapapun dia.
• Individualization (Indidualisasi)
Social Worker harus mengarahkan aktivitas profesional agar klien
mampu mengambil keputusan sendiri dengan sadar.
• Nonjudgemental attitude (Sikap Tidak Menghakimi)
Social Worker tidak boleh memberi penilaian atas sikap dan ucapan
klien.
• Rationality (Rasionalitas)
Setiap pengambilan keputusan harus didasari pertimbangan rasional
• Emphaty (empati)
Social Worker harus mampu menempatkan diri pada sudut pandang
klien.
• Genuiness (Ketulusan/Kesungguhan)
Social Worker harus bersikap tulus/sungguh-sungguh dalam bersikap
dan bertindak.
• Impartiality (Kejujuran)
• Confidentiality (Kerahasiaan)
Social Worker harus mampu menjaga kerahasiaan
• Self awareness (Mawas Diri)
Social Worker harus menyadari kemampuan dan kelemahan yang ada
pada dirinya.
7. Pelayanan Sosial
• Social services are comprised of individualized, direct, organized activities or case interventions that aim at helping an individual or collectivity adaptation. Social services constitute and also provide needed resource to help improve social competencies, effect behavior and identity change, resolve adjustment problems. (Siporin, 1975 :7)
• Social service maybe interpreted as consisting of programs made available by other than market criteria to assure a basic level of health-education welfare provision to enhance communal living and individual functioning, to facilitate acces to service and institution generally, and to assist those in dificulty and need. (Alfred J. Khan, 1973:21)
8. Proses (Tahapan)Pelayanan
• Assessment
• Plan of Treatment
• Treatment
• Evaluation
• Termination
• After Care
9. Proses (Tahapan)Pelayanan (Max Siporin)
• Engagement, Intake and Contract
• Assessment
• Planning
• Intervention
• Evaluation and Termination
9. Proses (Tahapan)Pelayanan
• Engagement, Intake and Contract
• Assessment
• Plan of intervntion
• Intervention
• Evaluation
• Termination
• Follow up
10. Strategi Pelayanan
• Client Based Services
• Family Based Services
• Institutional Based Services
• Community Based Services
• State Based Services
10. Strategi Pelayanan Bagi Anak
• Client Based Services
• Family Based Services
• Institutional Based Services
• Community Based Services
• Location Based Services
• Halfway Houses Services
• Foster Home Care Services
• State Based Services
11. Sistem Pelayanan
• Sistem Panti
• Sistem Nonpanti
12. Bentuk Pelayanan
• Bantuan Sosial
• Bimbingan Sosial
• Penyuluhan Sosial
13. Sistem-Sistem Sumber
• Sistem Sumber Informal/Alamiah
• Sistem Sumber Formal
• Sistem Sumber Kemasyarakatan
DIMENSI BARU yang dimasuki oleh social worker di indonesia (Profil Pekerja sosial profesional Indonesia Mitra Pembangunan Kesejahteraan Sosial, 2003)
• KONSULTAN EKONOMI DAN BISNIS
• ADVOKASI DALAM PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA
• PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM DIMENSI EKONOMI DAN POLITIK
• LEMBAGA-LEMBAGA INTERNASIONAL DAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT
• DISASTER MANAGEMENT
• CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
Jumat, 13 April 2012
Apa manfaat Menulis Bagiku?
Menulis merupakan salah satu hobi yang produktif. Menulis itu bukan sekedar merangkai kata-kata menjadi kalimat yang memiliki makna. Akan tetapi, menulis merupakan salah satu cara untuk mengeluarkan semua ide-ide yang ada dalam pikiran kita tanpa ada batasan yang menghalangi.
Apa manfaat menulis bagi saya? Tentu saja sangat banyak. Saya bukan orang yang pandai mengeluarkan ide yang ada dalam pikiran saya secara lisan. Untuk itu, saya membutuhkan alternatif lain untuk mengemukakan ide saya tersebut. Dan menulis adalah alternatif yang saya pilih. Seperti yang sudah saya sampaikan, dengan menulis saya bisa mengeluarkan ide-ide yang ada dalam pikiran saya. Bagi saya, menulis itu sama saja dengan menciptakan dunia saya sendiri, dunia yang saya inginkan, tanpa ada yang bisa membatasi.
Manfaat lain yang saya dapatkan dari menulis adalah kepuasan hati. Mungkin ini agak berlebihan, namun itulah yang saya rasakan setelah saya menulis. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi saya untuk menulis saat saya merasa tertekan. Hati akan terasa lebih ringan saat saya sudah menulis.
Menulis juga merupakan salah satu cara untuk menyimpan kenangan yang berkesan. Terkadang sayapun menuliskan kenangan-kenangan saya bersama sahabat-sahabat saya. Saat rasa bosan datang, saya sering membaca kembali tulisan-tulisan saya tentang kenangan saya bersama sahabat-sahabat saya.
Untuk membuat tulisan yang baik, tentu saja diperlukan imajinasi serta pengetahuan yang luas. Saya ingin membuat tulisan yang baik, karena itulah saya jadi sering membaca untuk menambah pengetahuan saya.
Minggu, 08 April 2012
Setiap kemenangan butuh kesabaran
Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
kiriman dari seorang sahabat
Terima kasih atas artikelnya. Teruslah menulis sahabat..
Senin, 02 April 2012
Tidak Mudah dan Diluar Dugaan
Aku memang penuh rencana. Berusaha membuat sesuatu hal baru setiap waktu. Kala jemu mencengkram hatiku dengan erat, kulepas ia dengan tak peduli. Kadang aku suka mengerjakan sesuatu hal tanpa rencana, namun untuk hal ini sepertinya menyakitkan. Bayangkan saja, setiap hal yang kita lakukan haruslah ada manfaatnya tapi yang kini aku lakukan cenderung hampa. Tanpa sedikitpun makna tersirat untuk minimal membuat hal ini sedikit mulia.
Aku mulai bermain dengan waktu, bermain tarik ulur dengan waktu, bermain toleransi terlalu tinggi dengan waktu hingga tak kusadari waktu jua yang membuat aku hancur berkeping-keping. Terlalu berlebihan sepertinya jika aku berkata demikian, bagaimanapun waktu yang aku punya adalah milikku maka saat aku tersakiti olehnya, sebenarnya aku sendiri yang menyakiti hatiku. Pelik memang.
Jika bicara tentang waktu, maka aku harus kembali teringat akan masa lalu,, sebut saja saat itu adalah waktu yang paling bersahabat denganku. Kala aku merasa setiap detik yang terlewat adalah tetesan madu yang lezat hingga tak mau setetespun kulewatkan. Tapi biarlah ia berlalu, toh aku pernah merasakannya dan merasa nyaman menjalaninya. Walau mungkin saat ini tak sama seperti itu, tapi aku bersyukur karena aku bertambah dewasa. Insya Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)









